Oki Setiawan
Rabu, 04 Desember 2013
Bukit Kapur Tinggi Raja, Silau Kahean, Simalungun, Sumatera Utara
Bukit Kapur Tinggi Raja, Silau Kahean, Simalungun, Sumatera Utara.
dapat di tempuh selama 2-3 jam dari Medan via Galang.
Jumat, 25 Mei 2012
Madabu Lope
Oh... da Jamila da Jamila da
bintang film India.
Boru ni kalibat parumaen ni pandita
Ai tung godang do halak sega di
bahen ho da Jamila
Di rippu anak boru hape naung
ina-ina oh Jamila
Lalu-lalang
kendaraan ibarat rangkaian gerbong kereta api yang tak putus-putus. Kuda besi
yang tak mau mengalah menyalip di antara rentetan mobil. Seolah tak mengizinkan
pengendara di belakang mendahuluinya. Umpatan dan caci-maki pun terlontar di
antara pengendara angkutan umum.
Di sisi seberang jalan, terdengar
nyanyian daerah yang dilantunkan sekelompok pemuda. Duduk mengelilingi meja
dari bahan kayu kasar. Beradu satu dengan yang lainnya. Terkadang serentak mengalun
satu lirik yang harus dinyanyikan bersama. Di meja lain, pengunjung warung
penjual gorengan asik dengan kesibukan masing-masing. Merencanakan hari esok.
Sepintas jika diperhatikan, mereka
mahasiswa yang berusaha melepas penat seharian yang berkutat dengan buku. Jauh
dari sanak saudara dan kampung halaman. Rasa rindu akan segalanya seolah
terbayar dengan berkumpul dan mengenang kehidupan kampung halaman.
Tertata di atas tirisan minyak
goreng pisang dan ubi rambat yang masih panas. Kelihatan baru diangkat si penjual.
Segelas teh manis hangat tersaji di atas meja yang terbuat dari kayu berbentuk
persegi panjang. Tak lama si pemilik warung membawakan sepiring gorengan berisi
pisang, ubi rambat, dan dua potong tahu isi. Mursya membuka topik pembicaraan
dengan tangan kanan memegang sepotong tahu isi goreng.
Hembusan angin malam itu benar-benar
menandakan hujan akan turun lagi. Benar. Hujan sedari sore yang tak lelah
mengguyur perkampungan Bulan seakan mendinginkan tanah yang terpanggang siang
tadi. Berusaha meneduhkan jiwa-jiwa yang sumpek
warganya setelah seharian beraktivitas.
“Jadi, bisa kau ceritakan apa yang
terjadi sampai Gina tak mau menemuiku lagi, Wan?” Celetuk Mursya kepada Iwan
yang tiba-tiba tersentak dengan pertanyaan itu.
Iwan berusaha mengingat kembali
pembicaraan sebulan lalu dengan Mursya. Ia sempat lupa pembicaraan itu. “Cerita
apa, Mur? Aku lupa pembicaraan itu.” Tanya Iwan dengan terbata-bata.
“Sudahlah, tak usah dilanjutkan.”
Sela Mursya.
“Aku tahu, pasti itu menyakitkan
untukku. Biarlah Gina memilih keputusannya. Aku pun sudah ikhlas.”
Dahulu Mursya sempat tertarik dengan
Gina. Pertemuan yang tak disengaja antara keduanya bermula ketika Mursya diajak
Iwan untuk melihat pementasan seni di kampusnya. Gina yang menjadi salah satu
pemeran dalam pementasan itu mencuri perhatian Mursya. Dengan lakon seorang
bidadari, Gina tampak benar-benar menjadi bidadari sungguhan. Terlabih di mata
Mursya.
Pertemuan yang begitu singkat
membuat Mursya penasaran ingin berkenalan dengan Gina. Ya, madabu lope. Mursya jatuh cinta pada Gina. Mursya mencari tahu sendiri siapa Gina sebenarnya. Informasi yang
didapat dari teman sepanggung Gina mencerahkan rasa penasarannya. Ternyata Gina
adik senior Iwan di kampusnya. Holong
mangalap holong. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Tak ingin disiasiakan. Mursya
langsung mencari tahu Gina. Iwan yang tak tahu bahwa Mursya tertarik dengan
Gina dengan terbukanya menceritakan siapa Gina. Gina yang berasal dari Tanah
Bertuah Negeri Beradat itu memang adik senior Iwan di kampusnya. Ia memang
dekat dengan Iwan tapi sebatas senior dan junior saja.
Mereka pun berkanalan dan mulai
dekat. Tanpa sepengetahuan Iwan. Beberapa bulan mereka jalan, namun tampaknya
Gina menunjukkan gelagat yang aneh pada Mursya. Itu ditunjukkan dengan mulai
menghindar dari Mursya.
Gina memang dekat dengan Iwan.
Bahkan Iwan sudah dianggap sebagai abangnya sendiri. Gina pun tak sungkan
bercerita tentang segala sesuatu pada Iwan. Tak jarang Gina menceritakan
tentang tingkah-laku Mursya. Ada sesuatu yang tak Gina suka pada Mursya. Gina
tak suka melihat Mursya menghisap batangan bertembakau tersebut. Apalagi
dihadapan Gina, kekasihnya itu.
Terkadang cinta itu harus ikhlas,
menerima apa adanya pasangan. Namun, bukan Gina tak menerima Mursya apa adanya.
Tetapi karena Mursya perokok berat. Dalam keluarga Gina, tak ada satu orang pun
yang menghisap batang putih bertembakau itu. Gina tak ingin melihat orang yang
akan menjadi pendamping hidupnya nanti sakit-sakitan akibat benda tersebut. Ia
ingin hidup bahagia dengan orang terkasihnya itu. Gina sempat juga menasihati
Mursya agar berhenti menghisap benda tersebut. Namun, Mursya tetaplah Mursya
yang tak ingin diusik privasi-nya.
“Jadi, benar kau tak mau ngasih tahu, Wan?” Mursya penasaran dan
tetap mendesak Iwan untuk memberi tahu rahasia tersebut kepadanya.
“Nanti suatu saat kau akan dengar
sendiri dari Gina.” Iwan menambah penasaran Mursya.
Sebenarnya itu pinta Gina pada Iwan
agar tidak memberi tahu alasan mengapa Gina tidak ingin lagi menemui Mursya
padanya. Gina ingin Mursya menyadari kesalahannya. Dengan begitu, Mursya dapat
kesempatan lagi mendekati Gina dengan persyaratan yang ditentukannya.
“Aku tak mau sebenarnya hubungan
kalian seperti ini. Tapi, memang Gina orangnya agak tegas kalau ku perhatikan.
Dia mau yang terbaik saja untukmu dan untuk dia terutama.”
“Nanti akan ku coba lagi untuk menghubunginya.
Syukur-syukur dia masih mau mengangkat telepon dari ku. Ya, minimal membalas
sms ku.” Harap Mursya.
“Ku sarankan, janganlah sampai
hubungan kalian renggang gara-gara hal sepele seperti ini.”
Mursya mencoba meminta saran kepada
Iwan. Berharap Gina mau menerima Mursya lagi. Dian yang dari tadi duduk di
samping Iwan sibuk dengan ponsel yang digenggamnya. Mengutak-atik layar touch screen. Tak ingin tahu dengan
pembicaraan yang Mursya dan Iwan bahas. Dia turun. Tak lama kemudian dia naik
dengan membawa sepiring lagi gorengan yang dipilihnya sendiri.
* * *
Hujan tak menunjukkan tanda-tanda
akan berhenti. Semakin deras. Hingga air cucuran atap tempias ke dalam warung
tempat mereka duduk. Percikan air membasuh wajah Mursya dan Iwan. Tak berselang
lama, Dian seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di kampus kampung Bulan
muncul tergopoh dengan baju basah kuyup. Tanpa sungkan, Dian mengambil gelas
teh manis Iwan yang memang belum diminumnya.
Suara klakson kendaraan terdengar
seperti iringan orkestra yang menghibur pengunjung warung. Laju kendaraan yang
tak lebih dari dua puluh kolometer per jam itu pun seakan ingin menemani warga
kampung Bulan yang pilu dalam suasana biru.
Pembicaraan mereka mulai mendalam,
hingga akhirnya topik pembicaraan menjurus laksana arah mata angin. Waktu
menunjukkan pukul sepuluh malam. Hujan sedikit reda. Meski gerimis tetap
mengawetkan hujan sedari sore.
Perlahan mereka menuruni anak tangga
warung tempat penjual gorengan dengan perlahan. Anak tangga yang terbuat dari
jeruji besi itu licin jika terkena air. Mereka tak ingin bernasib sama dengan
pengunjung lain yang turun terlebih dahulu dari mereka. Pengunjung itu
tergelincir saat pijakan kedua anak tangga tersebut.
Mursya menyalakan motornya dan
langsung mengarah ke selatan. Sedangkan Iwan dan Dian yang berboncengan
mengarah ke utara menembus dinginnya hujan yang tak kunjung reda.
Kampung Bulan, 16 Mei 2012
Senin, 09 Januari 2012
Rinduku Usai Sudah
Ingatkah kau kasih
Saat hujan lebat itu
Kau sandarkan tubuhmu
Mendekap erat di jantungku
Menggetarkan setiap relung jiwaku
Saat gubuk tua itu
menjadi pelindung raga dua insan
Perlahan kubelai rambut basahmu
Menambah indahnya suasana biru
dan pematang menjadi saksi bisu
Akh,
Aku terbuai
Terlena bersama air langit
Mengguyur raga kita
Masih ingatkah kau, kasih
Ketika jemarimu tak sadar menggenggam jemariku
dan kurasakan darah ini mengaliri ubun-ubunku
dan lagi aku terlena
Erat pelukmu
Hangatkan tubuh kaku ini
dan kau tak menyadari
telah menambah luka jantungku
Terngiang kata terlontar dari bibir indahmu
dan aku terjatuh
menyisakan luka di kalbu
Desember kelabu
bukan sebuah judul lagu
apa lagi nyanyian sendu
yang kurasa hanya pilu
pilu yang merasuk dalam kalbu
Rinduku padamu kini telah luruh
Terkikis lautan biru
Setahun berlalu
Masih ingatkah kau padaku?
Pematang Siantar, November 2010
Almaliki Kosasih
Saat hujan lebat itu
Kau sandarkan tubuhmu
Mendekap erat di jantungku
Menggetarkan setiap relung jiwaku
Saat gubuk tua itu
menjadi pelindung raga dua insan
Perlahan kubelai rambut basahmu
Menambah indahnya suasana biru
dan pematang menjadi saksi bisu
Akh,
Aku terbuai
Terlena bersama air langit
Mengguyur raga kita
Masih ingatkah kau, kasih
Ketika jemarimu tak sadar menggenggam jemariku
dan kurasakan darah ini mengaliri ubun-ubunku
dan lagi aku terlena
Erat pelukmu
Hangatkan tubuh kaku ini
dan kau tak menyadari
telah menambah luka jantungku
Terngiang kata terlontar dari bibir indahmu
dan aku terjatuh
menyisakan luka di kalbu
Desember kelabu
bukan sebuah judul lagu
apa lagi nyanyian sendu
yang kurasa hanya pilu
pilu yang merasuk dalam kalbu
Rinduku padamu kini telah luruh
Terkikis lautan biru
Setahun berlalu
Masih ingatkah kau padaku?
Pematang Siantar, November 2010
Almaliki Kosasih
Rubi, Sang Merah Merona
Acap kali kau bertanya;
Rindukah kau padaku?
Ingatkah kau padaku?
Membuat jantungku berdegup kencang
Inginku selalu bersamamu
Melalui hari-hari indah nan syahdu
Rubiku, warna merona di balik mega
Terpancar indah di khatulistiwa
Batu permata nan mempesona
Kau pancarkan rasa
Rasa yang belum pernah ada
Terikrar panji-panji setia
Agar kita selalu bersama
Rindukah kau padaku?
Ingatkah kau padaku?
Membuat jantungku berdegup kencang
Inginku selalu bersamamu
Melalui hari-hari indah nan syahdu
Rubiku, warna merona di balik mega
Terpancar indah di khatulistiwa
Batu permata nan mempesona
Kau pancarkan rasa
Rasa yang belum pernah ada
Terikrar panji-panji setia
Agar kita selalu bersama
Minggu, 04 Desember 2011
Kemarau di Musim Hujan
Mega masih mendung
Jalanan berliku masih terhalang
Oleh kabut sukma yang menerjang
Merayap mencari jejek terang
Luput rasa
Luput asa
Meracau dunia
Tertunduk kasta
Bukan harga
Bahkan tahta
Hanya cinta
Aku dia
Hujan luntur membasuh luka
Seakan kemarau tak mau melanda
Kan kupilih kemarau
Jika hujan meracau
Menapaki liku nan terjal
Berharap 'kan tiba waktu ajal
Jalanan berliku masih terhalang
Oleh kabut sukma yang menerjang
Merayap mencari jejek terang
Luput rasaLuput asa
Meracau dunia
Tertunduk kasta
Bukan harga
Bahkan tahta
Hanya cinta
Aku dia
Hujan luntur membasuh luka
Seakan kemarau tak mau melanda
Kan kupilih kemarau
Jika hujan meracau
Menapaki liku nan terjal
Berharap 'kan tiba waktu ajal
Kamis, 17 November 2011
Biografi Soe Hok Gie ( 1942-1969)
Djie Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih
sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan
umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.
Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?
Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.
Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.
Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.
Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun
dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali
Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun
keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal
sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan
tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak
Gunung Pangrango.
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak
dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur
tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat
mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani
Catatan Seorang Demonstran
John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Kata Kata Soe Hok Gie
- Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
- Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
- Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
- Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
- Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
- Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
- Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
- Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
- Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
- Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
- Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
- Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
- Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
- To be a human is to be destroyed.
- Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
- Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
- I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
- Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
- Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
- Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
- Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.
Dudukku Terusik Mega
Dudukku termenung sunyi
merambat lurus searah angin
berdesir
salah apa kemarin?
dosa apa terbuat?
Dudukku melamun jauh
searus mega berarak
berbondong menyirat tanya
luka apa kuperbuat?
siksa apa terjadi?
dan aku terduduk
ditelan kelamnya malam
16 November 2011
Langganan:
Komentar (Atom)















