Oh... da Jamila da Jamila da
bintang film India.
Boru ni kalibat parumaen ni pandita
Ai tung godang do halak sega di
bahen ho da Jamila
Di rippu anak boru hape naung
ina-ina oh Jamila
Lalu-lalang
kendaraan ibarat rangkaian gerbong kereta api yang tak putus-putus. Kuda besi
yang tak mau mengalah menyalip di antara rentetan mobil. Seolah tak mengizinkan
pengendara di belakang mendahuluinya. Umpatan dan caci-maki pun terlontar di
antara pengendara angkutan umum.
Di sisi seberang jalan, terdengar
nyanyian daerah yang dilantunkan sekelompok pemuda. Duduk mengelilingi meja
dari bahan kayu kasar. Beradu satu dengan yang lainnya. Terkadang serentak mengalun
satu lirik yang harus dinyanyikan bersama. Di meja lain, pengunjung warung
penjual gorengan asik dengan kesibukan masing-masing. Merencanakan hari esok.
Sepintas jika diperhatikan, mereka
mahasiswa yang berusaha melepas penat seharian yang berkutat dengan buku. Jauh
dari sanak saudara dan kampung halaman. Rasa rindu akan segalanya seolah
terbayar dengan berkumpul dan mengenang kehidupan kampung halaman.
Tertata di atas tirisan minyak
goreng pisang dan ubi rambat yang masih panas. Kelihatan baru diangkat si penjual.
Segelas teh manis hangat tersaji di atas meja yang terbuat dari kayu berbentuk
persegi panjang. Tak lama si pemilik warung membawakan sepiring gorengan berisi
pisang, ubi rambat, dan dua potong tahu isi. Mursya membuka topik pembicaraan
dengan tangan kanan memegang sepotong tahu isi goreng.
Hembusan angin malam itu benar-benar
menandakan hujan akan turun lagi. Benar. Hujan sedari sore yang tak lelah
mengguyur perkampungan Bulan seakan mendinginkan tanah yang terpanggang siang
tadi. Berusaha meneduhkan jiwa-jiwa yang sumpek
warganya setelah seharian beraktivitas.
“Jadi, bisa kau ceritakan apa yang
terjadi sampai Gina tak mau menemuiku lagi, Wan?” Celetuk Mursya kepada Iwan
yang tiba-tiba tersentak dengan pertanyaan itu.
Iwan berusaha mengingat kembali
pembicaraan sebulan lalu dengan Mursya. Ia sempat lupa pembicaraan itu. “Cerita
apa, Mur? Aku lupa pembicaraan itu.” Tanya Iwan dengan terbata-bata.
“Sudahlah, tak usah dilanjutkan.”
Sela Mursya.
“Aku tahu, pasti itu menyakitkan
untukku. Biarlah Gina memilih keputusannya. Aku pun sudah ikhlas.”
Dahulu Mursya sempat tertarik dengan
Gina. Pertemuan yang tak disengaja antara keduanya bermula ketika Mursya diajak
Iwan untuk melihat pementasan seni di kampusnya. Gina yang menjadi salah satu
pemeran dalam pementasan itu mencuri perhatian Mursya. Dengan lakon seorang
bidadari, Gina tampak benar-benar menjadi bidadari sungguhan. Terlabih di mata
Mursya.
Pertemuan yang begitu singkat
membuat Mursya penasaran ingin berkenalan dengan Gina. Ya, madabu lope. Mursya jatuh cinta pada Gina. Mursya mencari tahu sendiri siapa Gina sebenarnya. Informasi yang
didapat dari teman sepanggung Gina mencerahkan rasa penasarannya. Ternyata Gina
adik senior Iwan di kampusnya. Holong
mangalap holong. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Tak ingin disiasiakan. Mursya
langsung mencari tahu Gina. Iwan yang tak tahu bahwa Mursya tertarik dengan
Gina dengan terbukanya menceritakan siapa Gina. Gina yang berasal dari Tanah
Bertuah Negeri Beradat itu memang adik senior Iwan di kampusnya. Ia memang
dekat dengan Iwan tapi sebatas senior dan junior saja.
Mereka pun berkanalan dan mulai
dekat. Tanpa sepengetahuan Iwan. Beberapa bulan mereka jalan, namun tampaknya
Gina menunjukkan gelagat yang aneh pada Mursya. Itu ditunjukkan dengan mulai
menghindar dari Mursya.
Gina memang dekat dengan Iwan.
Bahkan Iwan sudah dianggap sebagai abangnya sendiri. Gina pun tak sungkan
bercerita tentang segala sesuatu pada Iwan. Tak jarang Gina menceritakan
tentang tingkah-laku Mursya. Ada sesuatu yang tak Gina suka pada Mursya. Gina
tak suka melihat Mursya menghisap batangan bertembakau tersebut. Apalagi
dihadapan Gina, kekasihnya itu.
Terkadang cinta itu harus ikhlas,
menerima apa adanya pasangan. Namun, bukan Gina tak menerima Mursya apa adanya.
Tetapi karena Mursya perokok berat. Dalam keluarga Gina, tak ada satu orang pun
yang menghisap batang putih bertembakau itu. Gina tak ingin melihat orang yang
akan menjadi pendamping hidupnya nanti sakit-sakitan akibat benda tersebut. Ia
ingin hidup bahagia dengan orang terkasihnya itu. Gina sempat juga menasihati
Mursya agar berhenti menghisap benda tersebut. Namun, Mursya tetaplah Mursya
yang tak ingin diusik privasi-nya.
“Jadi, benar kau tak mau ngasih tahu, Wan?” Mursya penasaran dan
tetap mendesak Iwan untuk memberi tahu rahasia tersebut kepadanya.
“Nanti suatu saat kau akan dengar
sendiri dari Gina.” Iwan menambah penasaran Mursya.
Sebenarnya itu pinta Gina pada Iwan
agar tidak memberi tahu alasan mengapa Gina tidak ingin lagi menemui Mursya
padanya. Gina ingin Mursya menyadari kesalahannya. Dengan begitu, Mursya dapat
kesempatan lagi mendekati Gina dengan persyaratan yang ditentukannya.
“Aku tak mau sebenarnya hubungan
kalian seperti ini. Tapi, memang Gina orangnya agak tegas kalau ku perhatikan.
Dia mau yang terbaik saja untukmu dan untuk dia terutama.”
“Nanti akan ku coba lagi untuk menghubunginya.
Syukur-syukur dia masih mau mengangkat telepon dari ku. Ya, minimal membalas
sms ku.” Harap Mursya.
“Ku sarankan, janganlah sampai
hubungan kalian renggang gara-gara hal sepele seperti ini.”
Mursya mencoba meminta saran kepada
Iwan. Berharap Gina mau menerima Mursya lagi. Dian yang dari tadi duduk di
samping Iwan sibuk dengan ponsel yang digenggamnya. Mengutak-atik layar touch screen. Tak ingin tahu dengan
pembicaraan yang Mursya dan Iwan bahas. Dia turun. Tak lama kemudian dia naik
dengan membawa sepiring lagi gorengan yang dipilihnya sendiri.
* * *
Hujan tak menunjukkan tanda-tanda
akan berhenti. Semakin deras. Hingga air cucuran atap tempias ke dalam warung
tempat mereka duduk. Percikan air membasuh wajah Mursya dan Iwan. Tak berselang
lama, Dian seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di kampus kampung Bulan
muncul tergopoh dengan baju basah kuyup. Tanpa sungkan, Dian mengambil gelas
teh manis Iwan yang memang belum diminumnya.
Suara klakson kendaraan terdengar
seperti iringan orkestra yang menghibur pengunjung warung. Laju kendaraan yang
tak lebih dari dua puluh kolometer per jam itu pun seakan ingin menemani warga
kampung Bulan yang pilu dalam suasana biru.
Pembicaraan mereka mulai mendalam,
hingga akhirnya topik pembicaraan menjurus laksana arah mata angin. Waktu
menunjukkan pukul sepuluh malam. Hujan sedikit reda. Meski gerimis tetap
mengawetkan hujan sedari sore.
Perlahan mereka menuruni anak tangga
warung tempat penjual gorengan dengan perlahan. Anak tangga yang terbuat dari
jeruji besi itu licin jika terkena air. Mereka tak ingin bernasib sama dengan
pengunjung lain yang turun terlebih dahulu dari mereka. Pengunjung itu
tergelincir saat pijakan kedua anak tangga tersebut.
Mursya menyalakan motornya dan
langsung mengarah ke selatan. Sedangkan Iwan dan Dian yang berboncengan
mengarah ke utara menembus dinginnya hujan yang tak kunjung reda.
Kampung Bulan, 16 Mei 2012