Oki Setiawan

Oki Setiawan
Senja hari

Jumat, 25 Mei 2012

Madabu Lope


Oh... da Jamila da Jamila da bintang film India.
Boru ni kalibat parumaen ni pandita
Ai tung godang do halak sega di bahen ho da Jamila
Di rippu anak boru hape naung ina-ina oh Jamila

Lalu-lalang kendaraan ibarat rangkaian gerbong kereta api yang tak putus-putus. Kuda besi yang tak mau mengalah menyalip di antara rentetan mobil. Seolah tak mengizinkan pengendara di belakang mendahuluinya. Umpatan dan caci-maki pun terlontar di antara pengendara angkutan umum.
            Di sisi seberang jalan, terdengar nyanyian daerah yang dilantunkan sekelompok pemuda. Duduk mengelilingi meja dari bahan kayu kasar. Beradu satu dengan yang lainnya. Terkadang serentak mengalun satu lirik yang harus dinyanyikan bersama. Di meja lain, pengunjung warung penjual gorengan asik dengan kesibukan masing-masing. Merencanakan hari esok.
            Sepintas jika diperhatikan, mereka mahasiswa yang berusaha melepas penat seharian yang berkutat dengan buku. Jauh dari sanak saudara dan kampung halaman. Rasa rindu akan segalanya seolah terbayar dengan berkumpul dan mengenang kehidupan kampung halaman.
            Tertata di atas tirisan minyak goreng pisang dan ubi rambat yang masih panas. Kelihatan baru diangkat si penjual. Segelas teh manis hangat tersaji di atas meja yang terbuat dari kayu berbentuk persegi panjang. Tak lama si pemilik warung membawakan sepiring gorengan berisi pisang, ubi rambat, dan dua potong tahu isi. Mursya membuka topik pembicaraan dengan tangan kanan memegang sepotong tahu isi goreng.
            Hembusan angin malam itu benar-benar menandakan hujan akan turun lagi. Benar. Hujan sedari sore yang tak lelah mengguyur perkampungan Bulan seakan mendinginkan tanah yang terpanggang siang tadi. Berusaha meneduhkan jiwa-jiwa yang sumpek warganya setelah seharian beraktivitas.
            “Jadi, bisa kau ceritakan apa yang terjadi sampai Gina tak mau menemuiku lagi, Wan?” Celetuk Mursya kepada Iwan yang tiba-tiba tersentak dengan pertanyaan itu.
            Iwan berusaha mengingat kembali pembicaraan sebulan lalu dengan Mursya. Ia sempat lupa pembicaraan itu. “Cerita apa, Mur? Aku lupa pembicaraan itu.” Tanya Iwan dengan terbata-bata.
            “Sudahlah, tak usah dilanjutkan.” Sela Mursya.
            “Aku tahu, pasti itu menyakitkan untukku. Biarlah Gina memilih keputusannya. Aku pun sudah ikhlas.”
            Dahulu Mursya sempat tertarik dengan Gina. Pertemuan yang tak disengaja antara keduanya bermula ketika Mursya diajak Iwan untuk melihat pementasan seni di kampusnya. Gina yang menjadi salah satu pemeran dalam pementasan itu mencuri perhatian Mursya. Dengan lakon seorang bidadari, Gina tampak benar-benar menjadi bidadari sungguhan. Terlabih di mata Mursya.
            Pertemuan yang begitu singkat membuat Mursya penasaran ingin berkenalan dengan Gina. Ya, madabu lope. Mursya jatuh cinta pada Gina. Mursya mencari tahu sendiri siapa Gina sebenarnya. Informasi yang didapat dari teman sepanggung Gina mencerahkan rasa penasarannya. Ternyata Gina adik senior Iwan di kampusnya. Holong mangalap holong. Pucuk dicinta ulam pun tiba.
            Tak ingin disiasiakan. Mursya langsung mencari tahu Gina. Iwan yang tak tahu bahwa Mursya tertarik dengan Gina dengan terbukanya menceritakan siapa Gina. Gina yang berasal dari Tanah Bertuah Negeri Beradat itu memang adik senior Iwan di kampusnya. Ia memang dekat dengan Iwan tapi sebatas senior dan junior saja.
            Mereka pun berkanalan dan mulai dekat. Tanpa sepengetahuan Iwan. Beberapa bulan mereka jalan, namun tampaknya Gina menunjukkan gelagat yang aneh pada Mursya. Itu ditunjukkan dengan mulai menghindar dari Mursya.
            Gina memang dekat dengan Iwan. Bahkan Iwan sudah dianggap sebagai abangnya sendiri. Gina pun tak sungkan bercerita tentang segala sesuatu pada Iwan. Tak jarang Gina menceritakan tentang tingkah-laku Mursya. Ada sesuatu yang tak Gina suka pada Mursya. Gina tak suka melihat Mursya menghisap batangan bertembakau tersebut. Apalagi dihadapan Gina, kekasihnya itu.
            Terkadang cinta itu harus ikhlas, menerima apa adanya pasangan. Namun, bukan Gina tak menerima Mursya apa adanya. Tetapi karena Mursya perokok berat. Dalam keluarga Gina, tak ada satu orang pun yang menghisap batang putih bertembakau itu. Gina tak ingin melihat orang yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti sakit-sakitan akibat benda tersebut. Ia ingin hidup bahagia dengan orang terkasihnya itu. Gina sempat juga menasihati Mursya agar berhenti menghisap benda tersebut. Namun, Mursya tetaplah Mursya yang tak ingin diusik privasi-nya.
            “Jadi, benar kau tak mau ngasih tahu, Wan?” Mursya penasaran dan tetap mendesak Iwan untuk memberi tahu rahasia tersebut kepadanya.
            “Nanti suatu saat kau akan dengar sendiri dari Gina.” Iwan menambah penasaran Mursya.
            Sebenarnya itu pinta Gina pada Iwan agar tidak memberi tahu alasan mengapa Gina tidak ingin lagi menemui Mursya padanya. Gina ingin Mursya menyadari kesalahannya. Dengan begitu, Mursya dapat kesempatan lagi mendekati Gina dengan persyaratan yang ditentukannya.
            “Aku tak mau sebenarnya hubungan kalian seperti ini. Tapi, memang Gina orangnya agak tegas kalau ku perhatikan. Dia mau yang terbaik saja untukmu dan untuk dia terutama.”
            “Nanti akan ku coba lagi untuk menghubunginya. Syukur-syukur dia masih mau mengangkat telepon dari ku. Ya, minimal membalas sms ku.” Harap Mursya.
            “Ku sarankan, janganlah sampai hubungan kalian renggang gara-gara hal sepele seperti ini.”
            Mursya mencoba meminta saran kepada Iwan. Berharap Gina mau menerima Mursya lagi. Dian yang dari tadi duduk di samping Iwan sibuk dengan ponsel yang digenggamnya. Mengutak-atik layar touch screen. Tak ingin tahu dengan pembicaraan yang Mursya dan Iwan bahas. Dia turun. Tak lama kemudian dia naik dengan membawa sepiring lagi gorengan yang dipilihnya sendiri.
*          *          *
            Hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Semakin deras. Hingga air cucuran atap tempias ke dalam warung tempat mereka duduk. Percikan air membasuh wajah Mursya dan Iwan. Tak berselang lama, Dian seorang mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di kampus kampung Bulan muncul tergopoh dengan baju basah kuyup. Tanpa sungkan, Dian mengambil gelas teh manis Iwan yang memang belum diminumnya.
            Suara klakson kendaraan terdengar seperti iringan orkestra yang menghibur pengunjung warung. Laju kendaraan yang tak lebih dari dua puluh kolometer per jam itu pun seakan ingin menemani warga kampung Bulan yang pilu dalam suasana biru.
            Pembicaraan mereka mulai mendalam, hingga akhirnya topik pembicaraan menjurus laksana arah mata angin. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Hujan sedikit reda. Meski gerimis tetap mengawetkan hujan sedari sore.
            Perlahan mereka menuruni anak tangga warung tempat penjual gorengan dengan perlahan. Anak tangga yang terbuat dari jeruji besi itu licin jika terkena air. Mereka tak ingin bernasib sama dengan pengunjung lain yang turun terlebih dahulu dari mereka. Pengunjung itu tergelincir saat pijakan kedua anak tangga tersebut.
            Mursya menyalakan motornya dan langsung mengarah ke selatan. Sedangkan Iwan dan Dian yang berboncengan mengarah ke utara menembus dinginnya hujan yang tak kunjung reda.
Kampung Bulan, 16 Mei 2012

Senin, 09 Januari 2012

Rinduku Usai Sudah

Ingatkah kau kasih
Saat hujan lebat itu
Kau sandarkan tubuhmu
Mendekap erat di jantungku
Menggetarkan setiap relung jiwaku

Saat gubuk tua itu
menjadi pelindung raga dua insan
Perlahan kubelai rambut basahmu
Menambah indahnya suasana biru
dan pematang menjadi saksi bisu

Akh,
Aku terbuai
Terlena bersama air langit
Mengguyur raga kita

Masih ingatkah kau, kasih
Ketika jemarimu tak sadar menggenggam jemariku
dan kurasakan darah ini mengaliri ubun-ubunku
dan lagi aku terlena

Erat pelukmu
Hangatkan tubuh kaku ini
dan kau tak menyadari
telah menambah luka jantungku
Terngiang kata terlontar dari bibir indahmu
dan aku terjatuh
menyisakan luka di kalbu

Desember kelabu
bukan sebuah judul lagu
apa lagi nyanyian sendu
yang kurasa hanya pilu
pilu yang merasuk dalam kalbu
Rinduku padamu kini telah luruh
Terkikis lautan biru
Setahun berlalu
Masih ingatkah kau padaku?



Pematang Siantar, November 2010
Almaliki Kosasih

Rubi, Sang Merah Merona

Acap kali kau bertanya;
Rindukah kau padaku?
Ingatkah kau padaku?
Membuat jantungku berdegup kencang
Inginku selalu bersamamu
Melalui hari-hari indah nan syahdu

Rubiku, warna merona di balik mega
Terpancar indah di khatulistiwa
Batu permata nan mempesona

Kau pancarkan rasa
Rasa yang belum pernah ada
Terikrar panji-panji setia
Agar kita selalu bersama