Oki Setiawan

Oki Setiawan
Senja hari

Minggu, 04 Desember 2011

Kemarau di Musim Hujan

Mega masih mendung
Jalanan berliku masih terhalang
Oleh kabut sukma yang menerjang
Merayap mencari jejek terang

Luput rasa
Luput asa
Meracau dunia
Tertunduk kasta
Bukan harga
Bahkan tahta
Hanya cinta
Aku dia

Hujan luntur membasuh luka
Seakan kemarau tak mau melanda
Kan kupilih kemarau
Jika hujan meracau
Menapaki liku nan terjal
Berharap 'kan tiba waktu ajal

Kamis, 17 November 2011

Biografi Soe Hok Gie ( 1942-1969)

        Djie Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok  yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.

Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.

Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?

Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.

Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.

Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.

Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.

Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.

24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani


Catatan Seorang Demonstran

John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.

Kata Kata Soe Hok Gie



  • Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
  • Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
  • Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
  • Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
  • Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
  • Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.
  • Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
  • Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
  • Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
  • Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
  • Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
  • Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
  • Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
  • To be a human is to be destroyed.
  •  Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
  • Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
  •  I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
  • Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
  • Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
  • Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
  • Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Dudukku Terusik Mega


Dudukku termenung sunyi
merambat lurus searah angin
berdesir
salah apa kemarin?
dosa apa terbuat?

Dudukku melamun jauh
searus mega berarak
berbondong menyirat tanya
luka apa kuperbuat?
siksa apa terjadi?

dan aku terduduk
ditelan kelamnya malam

                                


16 November 2011

Sabtu, 12 November 2011

Sebuah Kisah, Kawan


Kawan, pasti kalian belum pernah mendengar bahkan membaca kisah ini.Ya, karena kisah ini hanya ada di dunia antah-berantah.

Begini kisahnya.

  Seperti biasa, seekor elang terbang mengitar di antara rimbunnya hutan savana. Elang yang selalu mencari hewan apa saja yang mampu diburunya. Lelah menmengitari luasnya hutan, sang elang mencoba beristirahat di sebuah pohon ciberut yang telah gugur daunnya. Namun, karena begitu lelah dan letihnya ia seharian terbang tak mendapatkan mangsa, akhirnya ia tertidur pulas. Sayang, ia terjatuh dari atas pohon ciberut. Dan terhempas jatuh diantara bebatuan. Sayap dan kakinya patah.

  Sang elang tak sadarkan diri. Ia tak tahu apa lagi yang terjadi pada dirinya. Hingga akhirnya ia menemukan dirinya terlilit oleh ular derik. Sang elang tekejut dan panik. Ia pasrah terhadap situasi yang menimpanya.

  "Tenang saja, aku tidak akan memangsamu." Sang ular mencoba menenangkannya.

"Kaki dan sayapmu patah akibat terbentur bebatuan ini saat kau terjatuh." Sambungnya.

"Jadi mengapa kau melilitku?" Tanya sang elang.
  "Aku hanya berusaha agar kau tak banyak bergerak, dan aku berusaha untuk mengembalikan tulang-tulangmu pada posisinya." Jawab sang ular.
  "Istirahatlah beberapa hari. Mungkin sayap dan kakimu dapat sembuh." pinta sang ular.

Empat hari berlalu. Akhirnya sang ular melepaskan lilitannya dari sayap dan kaki sang elang. Namun apa yang terjadi setelah itu. Sang elang tampaknya sudah berhari-hari tak mendapatkan makanan. Melihat sang ular lengah, sang elang tak berpikir panjang. Dengan kalap dan buta mata sang elang mencengkram balik sang ular. Spontan sang ular merasa ada yang salah dan tidak wajar dengan sikap sang elang.

Sang ular berusaha memberontak. Namun usahanya sia-sia. Ia dibawa terbang ke angkasa oleh sang elang. Sampai pada ketinggian seratus empat puluh empat meter tiba-tiba cengkraman sang elang merenggang. Sontak sang ular terlepas dari cengkraman sang elang dan terhempas jatuh ke bumi. Tak sampai di situ, sang elang menghampirinya kembali. Melihat sang ular masih bergerak, sang elang pun kembali membawanya terbang. Lalu dihempaskannya kembali hinga berulang-ulang. Seluruh organ tubuhnya remuk tak berdaya. Sang ular meregang nyawa hingga akhirnya mati.Sang elang menghampiri ular tersebut dan mencabik-cabuk tubuh sang ular.

Dengan paruhnya yang tajam, sang elang merobek kulit hingga memisahkan daging dengan tulang sang ular. Begitu lahapnya ia memvonis sang ular hingga menyisakan tulang-tulang yang masih berdarah. Sang elang pun kembali menembus cakrawala mencari mangsa yang lain.  Ya, di sinilah kawan nasib sang ular. Tragis memang. Namun apa dikata. Begitulah rantai makanan hidup mereka. Hidup bagi segelintir makhluk ciptaan Tuhan.






Nb.Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata seorang sahabat yang begitu terluka hatinya menyaksikan sikap sahabatnya tersebut. Semoga kawan dapat mengambil intisari dari kisah tersebut. Apa pun yang kawan pikirkan, itu hak yang kawan berikan dari kisah ini.


                                                                                                               Beriozka, 12-11-11

Jumat, 11 November 2011

20 Hal Yang Merusak Kepribadian


Dari buku Personality Plus, bisa disimpulkan kira-kira ada 20 sifat yang bisa menghancurkan diri sendiri, yaitu:

1. Bashful
Sering menghindari perhatian karena malu
2. Unforgiving
Sulit melupakan sakit hati atas ketidakadilan yang dialami, biasa mendendam

3. Resentful
Sering memendam rasa tidak senang akibat tersinggung oleh fakta/khayalannya

4. Fussy
Bersikeras minta perhatian besar pada perincian/hal yang sepele
5. Insecure
Sering merasa sedih/cemas/takut/kurang kepercayaan

6. Unpopular
Suka menuntut orang lain untuk sempurna sesuai keinginannya

7. Hard to please
Suka menetapkan standar yang terlalu tinggi yang sulit dipenuhi oleh orang lain
8. Pessimistic
Sering melihat sisi buruk lebih dulu pada situasi apapun

9. Alienated
Sering merasa terasing/tidak aman, takut jangan-jangan tidak disenangi orang lain

10. Negative attitude
Jarang berpikir positif, sering cuma melihat sisi buruk/gelap setiap situasi
11. Withdrawn
Sering lama-lama menyendiri/menarik diri/mengasingkan diri

12. Too sensitive
Terlalu introspektif/ingin dipahami, mudah tersinggung kalau disalahpahami

13. Depressed
Hampir sepanjang waktu merasa tertekan
14. Introvert
Pemikiran & perhatiannya ditujukan ke dalam, hidup di dalam diri sendiri

15. Moody
Semangatnya sering merosot drastis, apalagi kalo merasa tidak dihargai

16. Skeptical
Tidak mudah percaya, mempertanyakan motif di balik kata-kata
17. Loner
Memerlukan banyak waktu pribadi, cenderung menghindari orang lain

18. Suspicious
Suka curiga/tidak percaya kata-kata orang lain

19. Revengeful
Sadar/tidak sadar sering menahan perasaan, menyimpan dendam, ingin membalas
20. Critical
Suka mengevaluasi/menilai/berpikir/mengkritik secara negatif

Ibu dan Dokter

Seorang perempuan sedang dalam proses melahirkan, dibantu oleh dokter kandungan. Tiba-tiba ia berhenti mengejang dan memanggil dokternya, "Dokter, tolong ya nanti ceritakan warna dari setiap bagian tubuh anak saya." 


"Lho kenapa?" tanya dokter dengan heran. 


"Mmmhh, saya sebenarnya Hiper sex dan Saya tidak tahu persis siapa ayahnya," kata perempuan tersebut. Dokter mengangguk mengerti. 


Akhirnya ketika kepala si bayi keluar, dokter berkata, "Nah kepala bayi sudah mulai muncul, warna rambutnya pirang. Apakah anda pernah berhubungan dengan orang bule?" 


"pernah Dokter, terimakasih." 


"Wah, kulit mukanya agak pucat dan matanya sipit. Apakah anda pernah berhubungan dengan orang cina?" 


"pernah Dokter, terimakasih." 


"Sekarang keluar dada dan kedua tangannya. Kok warnanya hitam. Apakah anda pernah berhubungan dengan orang negro?" 


"pernah Dokter, terimakasih." 


"Nah, sekarang kakinya. Warnanya coklat sawo matang. Ada orang Indonesianya rupanya." 


"pernah Dokter, terimakasih." 


Setelah seluruh tubuh bayi keluar, dokter memukul pantatnya dan keluarlah suara tangisnya, "Ooeeeee…" 


"Terimakasih Tuhan. Aku kira tadi ia akan menggonggong," desah si ibu haru....... 

Kamis, 03 November 2011

Pesan dari Angin


Bukan air  yang kuharap
Atau tanah yang mengering
Atau bahkan batu yang mengeras
Namun angin yang kunanti
Agar pesan yang terlampiaskan






Dini Hari, 16 Oktober 2011

Negeriku?


Bukan hidup pada jaman Stalin
Apalagi Soeharto
Yang kurasa tuan,
Hanya demokrasi ini
Yang tak terurus

Jangankan beras
Gabah dan serbuk abu cuci pun
Tak mampu aku membeli

Mereka bilang
Negeri  ini Zambrud Khatulistiwa
Bahkan Atlantis pula

Aku hanya bisa tertawa
Sambil menggenggam singkong rebus dari ladangku




                                                 

                                                     Warung saHIVa, 18 Oktober 2011

Kamis, 20 Oktober 2011

Dua Pertiga Malam

Fajar belum menyingsing
Ayam masih nyaman
bertengger di ranting akasia mungil
Yang kudengar masih longlongan anjing buluk yang terseok

Dengan pengki di kiri
Erat menggenggam sapu lidi
pada tangan kananmu
Kau mulai menyusuri jalan arteri kota
yang masih sunyi

Beberapa sedan mengkilap
berseliweran
Lalu hilang tertelan kabut
Entah dari mana tuan pemiliknya
Mungkin menghabiskan malam di bar-bar
Mungkin saja merencanakan pemecatan
Buruh mereka yang tak berdaya

Hanya daun gugur
dan debu jalanan
setia menemanimu
Sampai-sampai tetesan embun miris
melihat tubuh ringkihmu

                                                                   Medan, 19 Oktober 2011

Sabtu, 15 Oktober 2011

Cinta di Ujung Jurang

“Rusdi, ada yang mau Emakmu ini bilang samamu. Kemarilah, le.” Pinta wanita separuh baya sambil memukul-mukul sofa yang sudah tak berbusa lagi.

            Pukul 18.15 tak seperti biasanya Rusdi pulang lebih awal dari sebelumnya. Biasanya sebelum menjelang tengah malam baru Ia pulang. Mungkin karena hari Sabtu jam kantor lebih awal selesainya. Memang hari itu berbeda dari hari-hari kemarin. Suasana rumah sedikit ramai. Mungkin karena Rusdi pulang sore, jadi banyak anak-anak tetangga yang masih bermain di rumahnya.
            Maklum saja, Bu Ngatinah hanya tinggal berdua saja dengan anaknya, Rusdi. Suaminya sudah sepuluh tahun yang lalu meninggalkan dirinya dan menikah kembali dengan seorang gadis seumuran dengan Rusdi. Awalnya Bu Ngatinah sempat depresi dengan peristiwa tersebut, syukurnya masih ada Rusdi anak sematawayangnya yang mampu menenangkan jiwanya. Untuk mengobati rasa kesendiriannya ketika Rusdi bekerja, Bu Ngatinah mengajak anak-anak kecil dekat tetangganya untuk bermain-main di rumahnya.
            Waktu berlalu begitu lama hingga Bu Ngatinah tak lagi memikirkan suaminya tersebut. Ia masih memiliki Rusdi yang mampu menyejukkan jiwanya. Ia sangat membanggakan anaknya tersebut.
            “Sebentar, Mak. Rusdi ganti pakaian dulu.” Balas Rusdi dengan wajah terheran menatap emaknya.
            “Nanti dulu lah. Kemarilah dulu. Emak menginginkan sesuatu darimu.” Sedikit memelas pada anaknya, Bu Ngatinah pun menarik tangan Rusdi.
            Karena Rusdi tak terbiasa melawan perintah emaknya, akhirnya Ia pun menurut saja. Sofa yang hanya tinggal kain dan kerangka kayu sedikit membuat pantatnya sakit. Tapi bukan itu alasan emaknya mengajaknya untuk duduk di sofa reot tersebut.
            Dalam hati Rusdi ada sedikit sikap emaknya yang lain. Tak sepertinya sikap emaknya seperti ini. Namun rasa itu Ia tepis jauh-jauh. Mungkin emakanya sudah lama tidak berbicara seserius ini. Maklum saja. Rusdi selalu pulang larut malam ketika emaknya sudah terpejam seiring pancaran rembulan mulai meninggi.
            “Bagaimana kerjaanmu, le?” Le sebutan anak kesayangan bagi orang Jawa. Emaknya berbasa-basi.
            “Alhamdulillah, mak. Dengar-dengar bulan depan gaji Rusdi akan dinaikkan lima puluh persen.” Rusdi menjelaskan prihal di kantornya. “Ini berkat doa emak yang tak henti-hentinya pada Rusdi.”
            “Emak lihat akhir-akhir ini kau tampak lelah. Pulang selalu malam.” Emaknya menyambung jawaban Rusdi.
            “Di, ada yang emak mau pinta padamu.” Emaknya sempat terdiam sejenak tanpa melihat wajah anak tersayangnya itu.
            “Apa itu, mak?” Rusdi mengerutkan keningnya menunggu kelanjutan permintaan emaknya.
            “Emak sudah tua. Hampir tak mampu lagi mengurusmu. Setiap hari emak hanya ditemani anak-anak tetangga untuk mengusir kesunyian di rumah ini.” Emaknya melanjutkan.
            “Kapan Rusdi melamar Hafni? Emak ingin ada yang menemani emak di rumah ini setiap saat.”
            Rusdi hanya terdiam menundukkan kepalanya.
            “Emak tahu hubungan kalian sudah semakin erat. Emak ingin melihat kalian punya anak.” Emaknya mencoba mengangkat kepala Rusdi yang sedari tadi menunduk.
            “Jawablah, le?” Sambung emaknya.
            “Rusdi masih belum memikirkannya, mak” Rusdi menjawab sekenanya.
            “Lagian emak kan tidak sendirian di rumah kalau Rusdi bekerja. Ada Yopi, Nina, dan Fajar yang selalu menemani emak.” Yopi, Nina , dan Fajar adalah anak tetangganya yang sering bermain di rumah Bu Ngatinah.
            Pembicaraan tampaknya mulai serius. Rusdi mencoba mengalihkan pembicaraan. Itu tampak dari gelagatnya yang mulai tidak menanggapi permintaan emaknya.
            “Mereka kan selalu menemani emak. Lihatlah. Mereka setia menemani emak sampai sore begini.” Sergah Rusdi.
            “Tapi emak ingin Rusdi ada yang mengurus juga. Emak sempat bingung menjawab jika tetangga menanyakan ‘Kapan Rusdi menikah, mak? Begitu.”Bu Ngatinah mencoba memaksa anaknya.
            Rudi menghela nafas. “Hafni masih kuliah, mak. Lagian Dia saat ini masih tingkat dua. Masih terlalu muda untuk menggendong cucu emak jika kami menikah sekarang.” Penjelasan Rusdi membuat emaknya kecewa.
            Jika dilihat dari umur Rusdi, Rusdi mestinya sudah mampu berkeluarga. Namun Hafni masih terlalu muda. Usianya belum mencapai pernikahan. Kasihan jika dipaksa menikah di usia dini. Dan itu tidak bagus bagi kesehatan reproduksinya kelak.
            “Emak paham. Bagaimana kalu Rusdi lamar dulu dia? Emak takut kalu dia diambil orang. Hafni Emak lihat orangnya baik dan solehah. Sayang jika dia diambil orang nantinya.” Emaknya mencoba mencari jalan lain untuk memaksa Rusdi menikah.
            “Iya, mak.”
            “Rusdi maunya juga seperti itu. Tapi Rusdi masih sibuk dengan pekerjaan Rusdi di kantor. Rusdi takut jika Rusdi melamarnya Hafni akan kecewa jika nantinya Rusdi sedikit memberi perhatian padanya.” Rusdi menjelaskan pernyataannya tadi.
“Biarlah hubungan kami seperti ini dulu. Toh, Hafni juga tidak memaksa agar Rusdi melamarnya segera.” Sambungnya.
Percakapan emak dan anak ini tak terasa hingga azan maghrib mengumandang. Rusdi segera bergegas ke kamarnya dan membersihkan dan menyegarkan tubuhnya yang tampak lelah sepulang bekerja.
“Rusdi mau mandi dulu, mak. Nanti kita lanjutkan saat makan malam.” Rusdi melangkah ke kamarnya dengan menenteng tas kerjanya.
Emaknya hanya bisa mengangguk dan merasa kecewa dengan keputusan anak satu-satunya tesebut.
Selepas shalat berjamaah, Bu Ngatinah menagih janji Rusdi untuk cerita prihal tadi. Di meja makan mereka berbincang kembali. Dengan lauk yang dibeli Rusdi di sebuah rumah maka dekat kantornya mereka menikmati hidangan malam.
“Cobalah Rusdi tanyakan kembali pada Hafni.” Bu Ngatinah membuka pembicaraan.
“Mumpung ini malam minggu. Rusdi tidak berkunjung ke rumah Hafni? Pasti dia lagi menunggu di sana.”
“Iya, mak. Ini Rusdi mau bertemu dengannya.” Sambung Rusdi.
Bu Ngatinah selalu menyebut Rusdi jika berbicara pada anaknya. Karena Ia masih menganggap anaknya tersebut masih kecil. Ia sadar bahwa anaknya sudah berumur dua puluh tujuh tahun. Namun panggilan tersebut merupakan panggilan manja pada anaknya.
Setelah membereskan meja makan, Rusdi pamitan pada emaknya untuk ke rumah Hafni. Ia menghidupkan sepeda motornya yang Ia beli dua tahun lalu dengan hasil keringatnya sendiri.
Memang setelah Rusdi bekerja, kehidupan perekonomian mereka sedikit membaik. Hanya sofa reot itu yang belum diganti. Emaknya pernah cerita. Sofa reot tersebut memiliki kisah yang tak pernah terlupakan. Sofa reot yang tak seberapa itu ternyata memiliki kisah klasik saat Rusdi masih kecil.
Saat Rusdi mulai merangkak, benda tersebut yang membantunya pertama kali berdiri. Momen tersebut tidak disia-siakan emaknya. Emaknya kemudian mengambil kamera foto dan mengabadikannya. Foto tersebut masih terpajang di dinding ruang tamu di rumah sederhananya tersebut.
Kadang Ia selalu disindir oleh teman-temannya saat mereka mengunjungi rumahnya. Foto itulah yang menjadi objek olokan teman-temannya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dulu. Tapi Ia tidak merasa minder. Malah Ia bangga dengan emaknya yang mengambil momen tersebut saat Ia masih kecil dulu.
Setelah pamitan dengan emaknya, Rusdi melaju sepeda motornya menuju rumah Hafni. Di jalan Rusdi merancang pembicaraan yang nantinya akan Ia dan Hafni bicarakan. Empat puluh tujuh menit kemudian, sampailah Rusdi di pekarangan rumah Hafni.
Rumah yang memiliki pekarangan luas dan pepohonan yang mulai meninggi. Dengan arsitektur gaya rumah jaman Belanda tersebut masih terawat rapi. Jalan setapak yang mengarah ke pintu rumahnya terbuat dari blok-blok batu tertata rapi dengan kanan kiri menghias lampu taman yang menambah suasana malam begitu indah.
Rusdi memarkirkan sepeda motornya dekat garasi rumah Hafni. Hafni langsung keluar dan sudah berada di teras rumah. Karena sebelumnya Rusdi sudah menghubunginya bahwa Rusdi akan datang.
Mereka berjalan menuju pendopo kecil yang berada di samping kanan rumah Hafni. Tempat inilah yang biasa Rusdi dan Hafni jadikan tempat untuk berbincang dan bertukar pikiran saat Rusdi berkunjung ke rumah Hafni.
Lama perbincangan antara mereka. Rusdi pun menyampaikan pesan emaknya kepada Hafni. Tiba-tiba raut wajah Hafni berubah seketika. Air mata tampak meleleh disudut matanya. Hafni menyembunyikan wajahnya. Rusdi tak merasakan kejadian tersebut karena Rusdi memandang ke luar pendopo kecil yang diterangi oleh lampu teplok berbahan bakar minyak tanah.
Air mata yang menetes mengenai ujung lengan Rusdi. Ia tersentak. Dan menghentikan pembicaraan.
“Apa ini?” Rusdi terheran.
“Adik menangis?” Tanya Rusdi dengan wajah heran.
Hafni masih terdiam. Ia menahan sesaknya isakan tangis. Hal itu agar tidak diketahui oleh Rusdi. Namun Rusdi mencoba mengangkat wajah Hafni yang sedaritadi menunduk pilu.
“Ada yang salah dengan ucapan abang?” Rusdi sedikit memaksa Hafni untuk menjawab.
Akhirnya Hafni dengan hati yang teriris mencoba menjelaskan prihal yang terjadi.
“Bang, Hafni sebenarnya sayang dan mencintai sepenuhnya pada abang. Hafni tidak ingin kehilangan abang.” Hafni berusaha menahan tangisnya saat mencoba berbicara pada Rusdi kekasihnya itu.
“Apa yang terjadi, dik?”
“Kenapa tiba-tiba adik menangis dan mengatakan itu?” Rusdi masih terheran dengan apa yang baru saja diucapkan kekasihnya itu.
“Katakanlah, dik?”
Hafni mencoba menenangkan perasaannya yang menyesak di dada.
“Adik sudah dijodohkan dengan seorang perwira polisi oleh ayah, bang.”
Bagai terhimpit bongkahan besar batu cadas Rusdi mendengar yang barusan dikatakan Hafni. Kekasih yang sangat Ia sayangi dan cintai tiba-tiba seperti terseret arus deras sungai yang dalam dan Ia tak mampu untuk menolongnya. Rusdi tiba-tiba terdiam. Hanya hembusan angin yang menerpa dedaunan yang terdengar. Sesekali suara jangkrik yang bersahutan.
Rusdi mencoba berbicara dengan suara tergagap karena menahan rasa pilu yang mendalam.
“Jadi…  adik menerimanya?”
“Ayah memaksa, bang.” Dengan berat Hafni menjawabnya.
“Ayah bilang, abang jangan mengunjungi Hafni lagi.”
“Ini yang membuat Hafni merasa tertekan. Ayah selalu mengikuti kehendaknya.” Lanjut Hafni.
“Sempat terlintas dalam pikiran Hafni ingin kawin lari dengan abang.”
“Jangan!!!” Sergah Rusdi memotong pembicaraan Hafni.
“Abang tidak mau kalau adik dikatakan sebagai anak durhaka.”
Rusdi menghentikan pembicaraannya sejenak.
“Mungkin biarlah abang yang mengalah.” Sambungnya.
“hanya satu pinta dari abang. Jika adik menikah dengan pria itu, sayangilah dan cintailah dia seperti adik mencintai dan menyayangi abang.”
“Abang rela meski belum ikhlas meninggalkan adik.” Mengakhiri pembicaraan.
Derai tangis Hafni tak terbendung lagi. Kini Ia bagai kerasukan. Menangis sejadi-jadinya. Rusdi hanya terdiam meski perasaannya hancur berkeping-keping.


Medan, 12-13 Oktober 2011