“Rusdi, ada yang mau Emakmu ini
bilang samamu. Kemarilah, le.” Pinta wanita separuh baya sambil memukul-mukul
sofa yang sudah tak berbusa lagi.
Pukul
18.15 tak seperti biasanya Rusdi pulang lebih awal dari sebelumnya. Biasanya
sebelum menjelang tengah malam baru Ia pulang. Mungkin karena hari Sabtu jam
kantor lebih awal selesainya. Memang hari itu berbeda dari hari-hari kemarin.
Suasana rumah sedikit ramai. Mungkin karena Rusdi pulang sore, jadi banyak anak-anak
tetangga yang masih bermain di rumahnya.
Maklum
saja, Bu Ngatinah hanya tinggal berdua saja dengan anaknya, Rusdi. Suaminya
sudah sepuluh tahun yang lalu meninggalkan dirinya dan menikah kembali dengan
seorang gadis seumuran dengan Rusdi. Awalnya Bu Ngatinah sempat depresi dengan
peristiwa tersebut, syukurnya masih ada Rusdi anak sematawayangnya yang mampu
menenangkan jiwanya. Untuk mengobati rasa kesendiriannya ketika Rusdi bekerja,
Bu Ngatinah mengajak anak-anak kecil dekat tetangganya untuk bermain-main di
rumahnya.
Waktu
berlalu begitu lama hingga Bu Ngatinah tak lagi memikirkan suaminya tersebut.
Ia masih memiliki Rusdi yang mampu menyejukkan jiwanya. Ia sangat membanggakan
anaknya tersebut.
“Sebentar,
Mak. Rusdi ganti pakaian dulu.” Balas Rusdi dengan wajah terheran menatap
emaknya.
“Nanti
dulu lah. Kemarilah dulu. Emak menginginkan sesuatu darimu.” Sedikit memelas
pada anaknya, Bu Ngatinah pun menarik tangan Rusdi.
Karena
Rusdi tak terbiasa melawan perintah emaknya, akhirnya Ia pun menurut saja. Sofa
yang hanya tinggal kain dan kerangka kayu sedikit membuat pantatnya sakit. Tapi
bukan itu alasan emaknya mengajaknya untuk duduk di sofa reot tersebut.
Dalam
hati Rusdi ada sedikit sikap emaknya yang lain. Tak sepertinya sikap emaknya
seperti ini. Namun rasa itu Ia tepis jauh-jauh. Mungkin emakanya sudah lama
tidak berbicara seserius ini. Maklum saja. Rusdi selalu pulang larut malam
ketika emaknya sudah terpejam seiring pancaran rembulan mulai meninggi.
“Bagaimana
kerjaanmu, le?” Le sebutan anak kesayangan bagi orang Jawa. Emaknya
berbasa-basi.
“Alhamdulillah,
mak. Dengar-dengar bulan depan gaji Rusdi akan dinaikkan lima puluh persen.”
Rusdi menjelaskan prihal di kantornya. “Ini berkat doa emak yang tak
henti-hentinya pada Rusdi.”
“Emak
lihat akhir-akhir ini kau tampak lelah. Pulang selalu malam.” Emaknya
menyambung jawaban Rusdi.
“Di,
ada yang emak mau pinta padamu.” Emaknya sempat terdiam sejenak tanpa melihat
wajah anak tersayangnya itu.
“Apa
itu, mak?” Rusdi mengerutkan keningnya menunggu kelanjutan permintaan emaknya.
“Emak
sudah tua. Hampir tak mampu lagi mengurusmu. Setiap hari emak hanya ditemani
anak-anak tetangga untuk mengusir kesunyian di rumah ini.” Emaknya melanjutkan.
“Kapan Rusdi melamar Hafni? Emak ingin ada yang menemani emak di rumah ini setiap saat.”
“Kapan Rusdi melamar Hafni? Emak ingin ada yang menemani emak di rumah ini setiap saat.”
Rusdi
hanya terdiam menundukkan kepalanya.
“Emak
tahu hubungan kalian sudah semakin erat. Emak ingin melihat kalian punya anak.”
Emaknya mencoba mengangkat kepala Rusdi yang sedari tadi menunduk.
“Jawablah,
le?” Sambung emaknya.
“Rusdi
masih belum memikirkannya, mak” Rusdi menjawab sekenanya.
“Lagian
emak kan tidak sendirian di rumah kalau Rusdi bekerja. Ada Yopi, Nina, dan
Fajar yang selalu menemani emak.” Yopi, Nina , dan Fajar adalah anak
tetangganya yang sering bermain di rumah Bu Ngatinah.
Pembicaraan
tampaknya mulai serius. Rusdi mencoba mengalihkan pembicaraan. Itu tampak dari
gelagatnya yang mulai tidak menanggapi permintaan emaknya.
“Mereka
kan selalu menemani emak. Lihatlah. Mereka setia menemani emak sampai sore
begini.” Sergah Rusdi.
“Tapi
emak ingin Rusdi ada yang mengurus juga. Emak sempat bingung menjawab jika
tetangga menanyakan ‘Kapan Rusdi menikah, mak? Begitu.”Bu Ngatinah mencoba
memaksa anaknya.
Rudi
menghela nafas. “Hafni masih kuliah, mak. Lagian Dia saat ini masih tingkat
dua. Masih terlalu muda untuk menggendong cucu emak jika kami menikah
sekarang.” Penjelasan Rusdi membuat emaknya kecewa.
Jika
dilihat dari umur Rusdi, Rusdi mestinya sudah mampu berkeluarga. Namun Hafni
masih terlalu muda. Usianya belum mencapai pernikahan. Kasihan jika dipaksa
menikah di usia dini. Dan itu tidak bagus bagi kesehatan reproduksinya kelak.
“Emak
paham. Bagaimana kalu Rusdi lamar dulu dia? Emak takut kalu dia diambil orang. Hafni
Emak lihat orangnya baik dan solehah. Sayang jika dia diambil orang nantinya.”
Emaknya mencoba mencari jalan lain untuk memaksa Rusdi menikah.
“Iya,
mak.”
“Rusdi
maunya juga seperti itu. Tapi Rusdi masih sibuk dengan pekerjaan Rusdi di
kantor. Rusdi takut jika Rusdi melamarnya Hafni akan kecewa jika nantinya Rusdi
sedikit memberi perhatian padanya.” Rusdi menjelaskan pernyataannya tadi.
“Biarlah
hubungan kami seperti ini dulu. Toh, Hafni juga tidak memaksa agar Rusdi
melamarnya segera.” Sambungnya.
Percakapan emak
dan anak ini tak terasa hingga azan maghrib mengumandang. Rusdi segera bergegas
ke kamarnya dan membersihkan dan menyegarkan tubuhnya yang tampak lelah
sepulang bekerja.
“Rusdi mau mandi
dulu, mak. Nanti kita lanjutkan saat makan malam.” Rusdi melangkah ke kamarnya
dengan menenteng tas kerjanya.
Emaknya hanya
bisa mengangguk dan merasa kecewa dengan keputusan anak satu-satunya tesebut.
Selepas shalat
berjamaah, Bu Ngatinah menagih janji Rusdi untuk cerita prihal tadi. Di meja
makan mereka berbincang kembali. Dengan lauk yang dibeli Rusdi di sebuah rumah
maka dekat kantornya mereka menikmati hidangan malam.
“Cobalah Rusdi
tanyakan kembali pada Hafni.” Bu Ngatinah membuka pembicaraan.
“Mumpung ini
malam minggu. Rusdi tidak berkunjung ke rumah Hafni? Pasti dia lagi menunggu di
sana.”
“Iya, mak. Ini Rusdi
mau bertemu dengannya.” Sambung Rusdi.
Bu Ngatinah
selalu menyebut Rusdi jika berbicara pada anaknya. Karena Ia masih menganggap
anaknya tersebut masih kecil. Ia sadar bahwa anaknya sudah berumur dua puluh
tujuh tahun. Namun panggilan tersebut merupakan panggilan manja pada anaknya.
Setelah
membereskan meja makan, Rusdi pamitan pada emaknya untuk ke rumah Hafni. Ia
menghidupkan sepeda motornya yang Ia beli dua tahun lalu dengan hasil
keringatnya sendiri.
Memang setelah
Rusdi bekerja, kehidupan perekonomian mereka sedikit membaik. Hanya sofa reot
itu yang belum diganti. Emaknya pernah cerita. Sofa reot tersebut memiliki
kisah yang tak pernah terlupakan. Sofa reot yang tak seberapa itu ternyata
memiliki kisah klasik saat Rusdi masih kecil.
Saat Rusdi mulai
merangkak, benda tersebut yang membantunya pertama kali berdiri. Momen tersebut
tidak disia-siakan emaknya. Emaknya kemudian mengambil kamera foto dan
mengabadikannya. Foto tersebut masih terpajang di dinding ruang tamu di rumah
sederhananya tersebut.
Kadang Ia selalu
disindir oleh teman-temannya saat mereka mengunjungi rumahnya. Foto itulah yang
menjadi objek olokan teman-temannya ketika masih duduk di bangku sekolah
menengah pertama dulu. Tapi Ia tidak merasa minder. Malah Ia bangga dengan
emaknya yang mengambil momen tersebut saat Ia masih kecil dulu.
Setelah pamitan
dengan emaknya, Rusdi melaju sepeda motornya menuju rumah Hafni. Di jalan Rusdi
merancang pembicaraan yang nantinya akan Ia dan Hafni bicarakan. Empat puluh
tujuh menit kemudian, sampailah Rusdi di pekarangan rumah Hafni.
Rumah yang
memiliki pekarangan luas dan pepohonan yang mulai meninggi. Dengan arsitektur
gaya rumah jaman Belanda tersebut masih terawat rapi. Jalan setapak yang mengarah
ke pintu rumahnya terbuat dari blok-blok batu tertata rapi dengan kanan kiri
menghias lampu taman yang menambah suasana malam begitu indah.
Rusdi
memarkirkan sepeda motornya dekat garasi rumah Hafni. Hafni langsung keluar dan
sudah berada di teras rumah. Karena sebelumnya Rusdi sudah menghubunginya bahwa
Rusdi akan datang.
Mereka berjalan
menuju pendopo kecil yang berada di samping kanan rumah Hafni. Tempat inilah
yang biasa Rusdi dan Hafni jadikan tempat untuk berbincang dan bertukar pikiran
saat Rusdi berkunjung ke rumah Hafni.
Lama
perbincangan antara mereka. Rusdi pun menyampaikan pesan emaknya kepada Hafni.
Tiba-tiba raut wajah Hafni berubah seketika. Air mata tampak meleleh disudut
matanya. Hafni menyembunyikan wajahnya. Rusdi tak merasakan kejadian tersebut
karena Rusdi memandang ke luar pendopo kecil yang diterangi oleh lampu teplok
berbahan bakar minyak tanah.
Air mata yang
menetes mengenai ujung lengan Rusdi. Ia tersentak. Dan menghentikan
pembicaraan.
“Apa ini?” Rusdi
terheran.
“Adik menangis?”
Tanya Rusdi dengan wajah heran.
Hafni masih
terdiam. Ia menahan sesaknya isakan tangis. Hal itu agar tidak diketahui oleh
Rusdi. Namun Rusdi mencoba mengangkat wajah Hafni yang sedaritadi menunduk
pilu.
“Ada yang salah
dengan ucapan abang?” Rusdi sedikit memaksa Hafni untuk menjawab.
Akhirnya Hafni
dengan hati yang teriris mencoba menjelaskan prihal yang terjadi.
“Bang, Hafni
sebenarnya sayang dan mencintai sepenuhnya pada abang. Hafni tidak ingin
kehilangan abang.” Hafni berusaha menahan tangisnya saat mencoba berbicara pada
Rusdi kekasihnya itu.
“Apa yang
terjadi, dik?”
“Kenapa
tiba-tiba adik menangis dan mengatakan itu?” Rusdi masih terheran dengan apa
yang baru saja diucapkan kekasihnya itu.
“Katakanlah,
dik?”
Hafni mencoba
menenangkan perasaannya yang menyesak di dada.
“Adik sudah
dijodohkan dengan seorang perwira polisi oleh ayah, bang.”
Bagai terhimpit
bongkahan besar batu cadas Rusdi mendengar yang barusan dikatakan Hafni.
Kekasih yang sangat Ia sayangi dan cintai tiba-tiba seperti terseret arus deras
sungai yang dalam dan Ia tak mampu untuk menolongnya. Rusdi tiba-tiba terdiam.
Hanya hembusan angin yang menerpa dedaunan yang terdengar. Sesekali suara
jangkrik yang bersahutan.
Rusdi mencoba
berbicara dengan suara tergagap karena menahan rasa pilu yang mendalam.
“Jadi… adik menerimanya?”
“Ayah memaksa,
bang.” Dengan berat Hafni menjawabnya.
“Ayah bilang,
abang jangan mengunjungi Hafni lagi.”
“Ini yang
membuat Hafni merasa tertekan. Ayah selalu mengikuti kehendaknya.” Lanjut
Hafni.
“Sempat
terlintas dalam pikiran Hafni ingin kawin lari dengan abang.”
“Jangan!!!”
Sergah Rusdi memotong pembicaraan Hafni.
“Abang tidak mau
kalau adik dikatakan sebagai anak durhaka.”
Rusdi
menghentikan pembicaraannya sejenak.
“Mungkin biarlah
abang yang mengalah.” Sambungnya.
“hanya satu
pinta dari abang. Jika adik menikah dengan pria itu, sayangilah dan cintailah
dia seperti adik mencintai dan menyayangi abang.”
“Abang rela
meski belum ikhlas meninggalkan adik.” Mengakhiri pembicaraan.
Derai tangis
Hafni tak terbendung lagi. Kini Ia bagai kerasukan. Menangis sejadi-jadinya.
Rusdi hanya terdiam meski perasaannya hancur berkeping-keping.
Medan, 12-13 Oktober 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar