Oki Setiawan

Oki Setiawan
Senja hari

Kamis, 20 Oktober 2011

Dua Pertiga Malam

Fajar belum menyingsing
Ayam masih nyaman
bertengger di ranting akasia mungil
Yang kudengar masih longlongan anjing buluk yang terseok

Dengan pengki di kiri
Erat menggenggam sapu lidi
pada tangan kananmu
Kau mulai menyusuri jalan arteri kota
yang masih sunyi

Beberapa sedan mengkilap
berseliweran
Lalu hilang tertelan kabut
Entah dari mana tuan pemiliknya
Mungkin menghabiskan malam di bar-bar
Mungkin saja merencanakan pemecatan
Buruh mereka yang tak berdaya

Hanya daun gugur
dan debu jalanan
setia menemanimu
Sampai-sampai tetesan embun miris
melihat tubuh ringkihmu

                                                                   Medan, 19 Oktober 2011

Sabtu, 15 Oktober 2011

Cinta di Ujung Jurang

“Rusdi, ada yang mau Emakmu ini bilang samamu. Kemarilah, le.” Pinta wanita separuh baya sambil memukul-mukul sofa yang sudah tak berbusa lagi.

            Pukul 18.15 tak seperti biasanya Rusdi pulang lebih awal dari sebelumnya. Biasanya sebelum menjelang tengah malam baru Ia pulang. Mungkin karena hari Sabtu jam kantor lebih awal selesainya. Memang hari itu berbeda dari hari-hari kemarin. Suasana rumah sedikit ramai. Mungkin karena Rusdi pulang sore, jadi banyak anak-anak tetangga yang masih bermain di rumahnya.
            Maklum saja, Bu Ngatinah hanya tinggal berdua saja dengan anaknya, Rusdi. Suaminya sudah sepuluh tahun yang lalu meninggalkan dirinya dan menikah kembali dengan seorang gadis seumuran dengan Rusdi. Awalnya Bu Ngatinah sempat depresi dengan peristiwa tersebut, syukurnya masih ada Rusdi anak sematawayangnya yang mampu menenangkan jiwanya. Untuk mengobati rasa kesendiriannya ketika Rusdi bekerja, Bu Ngatinah mengajak anak-anak kecil dekat tetangganya untuk bermain-main di rumahnya.
            Waktu berlalu begitu lama hingga Bu Ngatinah tak lagi memikirkan suaminya tersebut. Ia masih memiliki Rusdi yang mampu menyejukkan jiwanya. Ia sangat membanggakan anaknya tersebut.
            “Sebentar, Mak. Rusdi ganti pakaian dulu.” Balas Rusdi dengan wajah terheran menatap emaknya.
            “Nanti dulu lah. Kemarilah dulu. Emak menginginkan sesuatu darimu.” Sedikit memelas pada anaknya, Bu Ngatinah pun menarik tangan Rusdi.
            Karena Rusdi tak terbiasa melawan perintah emaknya, akhirnya Ia pun menurut saja. Sofa yang hanya tinggal kain dan kerangka kayu sedikit membuat pantatnya sakit. Tapi bukan itu alasan emaknya mengajaknya untuk duduk di sofa reot tersebut.
            Dalam hati Rusdi ada sedikit sikap emaknya yang lain. Tak sepertinya sikap emaknya seperti ini. Namun rasa itu Ia tepis jauh-jauh. Mungkin emakanya sudah lama tidak berbicara seserius ini. Maklum saja. Rusdi selalu pulang larut malam ketika emaknya sudah terpejam seiring pancaran rembulan mulai meninggi.
            “Bagaimana kerjaanmu, le?” Le sebutan anak kesayangan bagi orang Jawa. Emaknya berbasa-basi.
            “Alhamdulillah, mak. Dengar-dengar bulan depan gaji Rusdi akan dinaikkan lima puluh persen.” Rusdi menjelaskan prihal di kantornya. “Ini berkat doa emak yang tak henti-hentinya pada Rusdi.”
            “Emak lihat akhir-akhir ini kau tampak lelah. Pulang selalu malam.” Emaknya menyambung jawaban Rusdi.
            “Di, ada yang emak mau pinta padamu.” Emaknya sempat terdiam sejenak tanpa melihat wajah anak tersayangnya itu.
            “Apa itu, mak?” Rusdi mengerutkan keningnya menunggu kelanjutan permintaan emaknya.
            “Emak sudah tua. Hampir tak mampu lagi mengurusmu. Setiap hari emak hanya ditemani anak-anak tetangga untuk mengusir kesunyian di rumah ini.” Emaknya melanjutkan.
            “Kapan Rusdi melamar Hafni? Emak ingin ada yang menemani emak di rumah ini setiap saat.”
            Rusdi hanya terdiam menundukkan kepalanya.
            “Emak tahu hubungan kalian sudah semakin erat. Emak ingin melihat kalian punya anak.” Emaknya mencoba mengangkat kepala Rusdi yang sedari tadi menunduk.
            “Jawablah, le?” Sambung emaknya.
            “Rusdi masih belum memikirkannya, mak” Rusdi menjawab sekenanya.
            “Lagian emak kan tidak sendirian di rumah kalau Rusdi bekerja. Ada Yopi, Nina, dan Fajar yang selalu menemani emak.” Yopi, Nina , dan Fajar adalah anak tetangganya yang sering bermain di rumah Bu Ngatinah.
            Pembicaraan tampaknya mulai serius. Rusdi mencoba mengalihkan pembicaraan. Itu tampak dari gelagatnya yang mulai tidak menanggapi permintaan emaknya.
            “Mereka kan selalu menemani emak. Lihatlah. Mereka setia menemani emak sampai sore begini.” Sergah Rusdi.
            “Tapi emak ingin Rusdi ada yang mengurus juga. Emak sempat bingung menjawab jika tetangga menanyakan ‘Kapan Rusdi menikah, mak? Begitu.”Bu Ngatinah mencoba memaksa anaknya.
            Rudi menghela nafas. “Hafni masih kuliah, mak. Lagian Dia saat ini masih tingkat dua. Masih terlalu muda untuk menggendong cucu emak jika kami menikah sekarang.” Penjelasan Rusdi membuat emaknya kecewa.
            Jika dilihat dari umur Rusdi, Rusdi mestinya sudah mampu berkeluarga. Namun Hafni masih terlalu muda. Usianya belum mencapai pernikahan. Kasihan jika dipaksa menikah di usia dini. Dan itu tidak bagus bagi kesehatan reproduksinya kelak.
            “Emak paham. Bagaimana kalu Rusdi lamar dulu dia? Emak takut kalu dia diambil orang. Hafni Emak lihat orangnya baik dan solehah. Sayang jika dia diambil orang nantinya.” Emaknya mencoba mencari jalan lain untuk memaksa Rusdi menikah.
            “Iya, mak.”
            “Rusdi maunya juga seperti itu. Tapi Rusdi masih sibuk dengan pekerjaan Rusdi di kantor. Rusdi takut jika Rusdi melamarnya Hafni akan kecewa jika nantinya Rusdi sedikit memberi perhatian padanya.” Rusdi menjelaskan pernyataannya tadi.
“Biarlah hubungan kami seperti ini dulu. Toh, Hafni juga tidak memaksa agar Rusdi melamarnya segera.” Sambungnya.
Percakapan emak dan anak ini tak terasa hingga azan maghrib mengumandang. Rusdi segera bergegas ke kamarnya dan membersihkan dan menyegarkan tubuhnya yang tampak lelah sepulang bekerja.
“Rusdi mau mandi dulu, mak. Nanti kita lanjutkan saat makan malam.” Rusdi melangkah ke kamarnya dengan menenteng tas kerjanya.
Emaknya hanya bisa mengangguk dan merasa kecewa dengan keputusan anak satu-satunya tesebut.
Selepas shalat berjamaah, Bu Ngatinah menagih janji Rusdi untuk cerita prihal tadi. Di meja makan mereka berbincang kembali. Dengan lauk yang dibeli Rusdi di sebuah rumah maka dekat kantornya mereka menikmati hidangan malam.
“Cobalah Rusdi tanyakan kembali pada Hafni.” Bu Ngatinah membuka pembicaraan.
“Mumpung ini malam minggu. Rusdi tidak berkunjung ke rumah Hafni? Pasti dia lagi menunggu di sana.”
“Iya, mak. Ini Rusdi mau bertemu dengannya.” Sambung Rusdi.
Bu Ngatinah selalu menyebut Rusdi jika berbicara pada anaknya. Karena Ia masih menganggap anaknya tersebut masih kecil. Ia sadar bahwa anaknya sudah berumur dua puluh tujuh tahun. Namun panggilan tersebut merupakan panggilan manja pada anaknya.
Setelah membereskan meja makan, Rusdi pamitan pada emaknya untuk ke rumah Hafni. Ia menghidupkan sepeda motornya yang Ia beli dua tahun lalu dengan hasil keringatnya sendiri.
Memang setelah Rusdi bekerja, kehidupan perekonomian mereka sedikit membaik. Hanya sofa reot itu yang belum diganti. Emaknya pernah cerita. Sofa reot tersebut memiliki kisah yang tak pernah terlupakan. Sofa reot yang tak seberapa itu ternyata memiliki kisah klasik saat Rusdi masih kecil.
Saat Rusdi mulai merangkak, benda tersebut yang membantunya pertama kali berdiri. Momen tersebut tidak disia-siakan emaknya. Emaknya kemudian mengambil kamera foto dan mengabadikannya. Foto tersebut masih terpajang di dinding ruang tamu di rumah sederhananya tersebut.
Kadang Ia selalu disindir oleh teman-temannya saat mereka mengunjungi rumahnya. Foto itulah yang menjadi objek olokan teman-temannya ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dulu. Tapi Ia tidak merasa minder. Malah Ia bangga dengan emaknya yang mengambil momen tersebut saat Ia masih kecil dulu.
Setelah pamitan dengan emaknya, Rusdi melaju sepeda motornya menuju rumah Hafni. Di jalan Rusdi merancang pembicaraan yang nantinya akan Ia dan Hafni bicarakan. Empat puluh tujuh menit kemudian, sampailah Rusdi di pekarangan rumah Hafni.
Rumah yang memiliki pekarangan luas dan pepohonan yang mulai meninggi. Dengan arsitektur gaya rumah jaman Belanda tersebut masih terawat rapi. Jalan setapak yang mengarah ke pintu rumahnya terbuat dari blok-blok batu tertata rapi dengan kanan kiri menghias lampu taman yang menambah suasana malam begitu indah.
Rusdi memarkirkan sepeda motornya dekat garasi rumah Hafni. Hafni langsung keluar dan sudah berada di teras rumah. Karena sebelumnya Rusdi sudah menghubunginya bahwa Rusdi akan datang.
Mereka berjalan menuju pendopo kecil yang berada di samping kanan rumah Hafni. Tempat inilah yang biasa Rusdi dan Hafni jadikan tempat untuk berbincang dan bertukar pikiran saat Rusdi berkunjung ke rumah Hafni.
Lama perbincangan antara mereka. Rusdi pun menyampaikan pesan emaknya kepada Hafni. Tiba-tiba raut wajah Hafni berubah seketika. Air mata tampak meleleh disudut matanya. Hafni menyembunyikan wajahnya. Rusdi tak merasakan kejadian tersebut karena Rusdi memandang ke luar pendopo kecil yang diterangi oleh lampu teplok berbahan bakar minyak tanah.
Air mata yang menetes mengenai ujung lengan Rusdi. Ia tersentak. Dan menghentikan pembicaraan.
“Apa ini?” Rusdi terheran.
“Adik menangis?” Tanya Rusdi dengan wajah heran.
Hafni masih terdiam. Ia menahan sesaknya isakan tangis. Hal itu agar tidak diketahui oleh Rusdi. Namun Rusdi mencoba mengangkat wajah Hafni yang sedaritadi menunduk pilu.
“Ada yang salah dengan ucapan abang?” Rusdi sedikit memaksa Hafni untuk menjawab.
Akhirnya Hafni dengan hati yang teriris mencoba menjelaskan prihal yang terjadi.
“Bang, Hafni sebenarnya sayang dan mencintai sepenuhnya pada abang. Hafni tidak ingin kehilangan abang.” Hafni berusaha menahan tangisnya saat mencoba berbicara pada Rusdi kekasihnya itu.
“Apa yang terjadi, dik?”
“Kenapa tiba-tiba adik menangis dan mengatakan itu?” Rusdi masih terheran dengan apa yang baru saja diucapkan kekasihnya itu.
“Katakanlah, dik?”
Hafni mencoba menenangkan perasaannya yang menyesak di dada.
“Adik sudah dijodohkan dengan seorang perwira polisi oleh ayah, bang.”
Bagai terhimpit bongkahan besar batu cadas Rusdi mendengar yang barusan dikatakan Hafni. Kekasih yang sangat Ia sayangi dan cintai tiba-tiba seperti terseret arus deras sungai yang dalam dan Ia tak mampu untuk menolongnya. Rusdi tiba-tiba terdiam. Hanya hembusan angin yang menerpa dedaunan yang terdengar. Sesekali suara jangkrik yang bersahutan.
Rusdi mencoba berbicara dengan suara tergagap karena menahan rasa pilu yang mendalam.
“Jadi…  adik menerimanya?”
“Ayah memaksa, bang.” Dengan berat Hafni menjawabnya.
“Ayah bilang, abang jangan mengunjungi Hafni lagi.”
“Ini yang membuat Hafni merasa tertekan. Ayah selalu mengikuti kehendaknya.” Lanjut Hafni.
“Sempat terlintas dalam pikiran Hafni ingin kawin lari dengan abang.”
“Jangan!!!” Sergah Rusdi memotong pembicaraan Hafni.
“Abang tidak mau kalau adik dikatakan sebagai anak durhaka.”
Rusdi menghentikan pembicaraannya sejenak.
“Mungkin biarlah abang yang mengalah.” Sambungnya.
“hanya satu pinta dari abang. Jika adik menikah dengan pria itu, sayangilah dan cintailah dia seperti adik mencintai dan menyayangi abang.”
“Abang rela meski belum ikhlas meninggalkan adik.” Mengakhiri pembicaraan.
Derai tangis Hafni tak terbendung lagi. Kini Ia bagai kerasukan. Menangis sejadi-jadinya. Rusdi hanya terdiam meski perasaannya hancur berkeping-keping.


Medan, 12-13 Oktober 2011

Kamis, 13 Oktober 2011

Sang Bhatara Yudha

Ketika kucumbui malam-malam sepi
Raga ini laksana kapas di Gurun Sahara
Melayang tak tentu arah
Bersembunyi dalam remang-remang malam

Dan..
Saat itu pula aliran darahku
sekejap melirik rongga-rongga kekuasaan hati
Menyelinap di setiap pori-pori kewibawaan
Menyemburat laksana mata air Dewi Shinta yang terengah-engah.

Oh...!
Sang Bhatara Yudha..
Kemana kah kunang-kunang penerang malamku..?

Sukma Dunia

Seseruput gelas bertangkai cekung mengalir dalam serambi-serambi kerongkongan.
Ketika sukma merajai dunia, kau pun enyah berbayang temaram.
Seuntai kata kadang menusuk palung jiwa.
Laksana raksa mengalir menyusup bilik-bilik rizhoma.
Menghancur raga melebur indra.

Kata bertemu kasta;
Berbeda namun ratta.
Saat jiwa bertemu harga, kuasa dunia hanya fana.

Namun seuntai kata tak mampu meluruskan rasa.
Apakah jiwa terlepas raga baru kau akan merasa?
Biarlah rasa akan bahagia.
                              


                                    Kamar Sastra, 3 April 2011

Titian Nadi

Tik…
Tik…
Sebuah baja menembus pembungkus raga
Menyatu dalam selang-selang permainan dunia
Tubuh kaku terbujur di antara susunan dipan
Menerawang menembus langit-langit istana

Jiwa tak mampu lagi bersarang
Titian nadi tak mampu menghalang
Hanya cucur-deraian air mata yang mampu mengikhlaskan

Pintaku padaNYA,
Izinkan Aku bertemu mereka bahagia dalam Raudhatul Jannah

                                                Kamar Sastra, 13 Mei, 2011

Selasa, 11 Oktober 2011

Ketika Diam


Ketika diam,
beribu bahasa beropini
melahirkan tanya berbingkai riza
bercucur lara menghalau kata

Ketika diam,
sapa merangkum dera
mengoles luka beraroma durja
sepintas menghela rasa dalam sukma

Ketika diam,
Ratna Mutu Manikam
semburat berpancar kelam
men
ggores raga dalam dendam
merasa tak lagi karam
mungkin awan bermandikan malam

Ketika diam,
semua terdiam

                                                Kamar Sastra, 21 April 2011

Jumat, 07 Oktober 2011

Senja Terakhir


Malam ini gelap sobat
Mungkin Aku atau Kau tak  kan menemukan lagi mentari esok
Dingin yang menjalar sekujur tubuh berubah menjadi kaku

Munkin saja senja terakhirku  telah berlalu
Dan Aku kan melayar
Mencari labuhan baru

Apakah di sana ku temukan badai rintang?
Mungkin kah di sini langkah tak berkarang?

Mentari fajar belum kurasa hangatnya
Sedang raga membujur tersimpulkan lengan bersendekap
Sekeliling sayup ku dengar alunan syair indah menggema
Menentramkan jiwa sunyi berbalut sukma

Malam ini terlalu menusuk jantung dingin kurasa
Darah tak mengalir
Nafas tertahan
Kelopak mata terpejam
Senyum tersimpul elok
Kulit tak merasa

Jiwaku terbawa utusan Penguasa
Melayang melambung menuju arah
Sampaikan pesanku pada mereka

Liang

Lamunku menggantungkanku pada dahan kering yang lapuk termakan usia. Berdiri berjajar dengan ranting berduri dengan ujung jarum yang tak pernah tumpul oleh alunan jangkrik.

Bukankah kita pernah merajut benang-benang sutra yang pernah kita curi dari ulat pemakan murbei? Atau kah kita kita hanya menghayal kala embun menyelimuti dedaunan  yang mulai mongering terpanggang sang surya?

Bukan rayuan sebenarnya yang kulontarkan padamu, atau bahkan pujian yang tersirat saat bumi mengering.

Rayumu sempat melambungkan imajiku
Katamu menenggelamkanku dalam palung samudera
Dan Aku tersentak

Bara api membakar pikirku yang menyadarkan embrio-embrio organ vitalku untuk segera bangkit, dan mengejar semua keterasinganku yang sempat terbawa dalam kereta senja kala itu Ya, kebangkitanku dalam liang keheningan menjadikanku orang tanpa rasa lelah